Rabu, 04 Maret 2015

Yamba dengan Pamornya



Pernah mendengar kata ‘Yamba’?

Jika kamu masuk ke skcretariat seni rupa, yang bertempat di gedung lama FPBS UPI, mungkin kata itu akan sangat sering terdengar di telinga. Entah sejak kapan kata itu mulai popular. Entah siapa juga yang memopulerkan kata semacam itu.

Tergelitik ingin mengetahui apa arti sebenarnya kata ‘yamba’ itu, saya mulai mencoba mengetikkan kata itu di google, dan yang muncul adalah sebuah pantai elok yang berada di Australia. Lalu apa hubungannya anak seni rupa ini dengan pantai yang berada di Australia itu? Apa mereka di bayar oleh pemerintahan Australia untuk mempromosikan tempat itu? Yang benar saja! Tentu saja tidak mungkin!

Tak berhenti disitu akupun mulai membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), online tentu saja. Dengan naif nya aku menetikkan kata itu dengan harapan muncul arti kata yang sebenarnya beserta rentetan penjelasannya. Tapi apa yang bisa aku perbuat, “mungkin yang anda maksud ‘hamba’” itulah jawaban yang muncul setiap aku mengetikkan kata yang tak diketahui asal usulnya itu.

Setelah semua usaha sudah dilakukan demi mencari kebenaran arti kata ‘yamba’ sesungguhnya, akupun akhirnya harus menerima arti yang sudah disepakati bersama. Seperti halnya semiotika dengan tanda yang sudah disepakati bersama, mungkin sudah waktunya aku menyepakati kata ‘yamba’ ini pula sebagai pengganti kata ‘malas’.
Malas?

Yap, itulah arti dari kata ‘Yamba’ menurut anak seni rupa UPI khususnya. Entahlah, mungkin kamu akan menemukan arti yang berbeda jika menemukan seseorang atau sekelompok orang mengucapkan kata yang serupa. Atau jika kamu berani, dan penasaran, kamu bisa  menanyakannya secara langsung pada orang yang mengucapkan kata itu. Hanya sekedar saran, tentu saja.

Jadi hanya itu makna dari kata ‘Yamba’? Hanya ‘malas’? Tentu saja tidak berhenti disitu.

Menjabarkan dari apa yang saya tangkap dari makna kata ‘Yamba’, jika dalam tingkatan manusia orang malas adalah tingkatan orang paling bawah karena kebiasaannya yang sering mengulur waktu, maka orang yamba mempunyai lebih bawah satu langkah dari orang malas. Orang yamba adalah orang yang selalu mengulur waktu, malas bergerak, dan bisa dibilang, tak punya gairah dalam menjalani hari-harinya. Pekerjaan yang tak kunjung selesai, jikapun selesai maka akan selesai dengan ‘apa adanya’, usaha yang sangat kurang, dan tidur menjadi salah satu alasannya untuk tidak menjalani hari.

Jadi sudah sewajarnya jika ada yang tidak terima dengan lontaran kata ‘yamba’ padanya. Bagaimana tidak, siapa yang akan terima di juluki sebagai orang yamba dengan jabaran makna yang kurasa tak ada sedikitpun nilai positif didalamnya.

Lalu mengapa kata itu seperti berkibar bebas di lingkungan seni rupa UPI?

Apa banyak orang yamba berkeliaran di lingkungan seni rupa disini?

Jawabannya, bisa jadi ‘ya’ bisa juga ‘tidak’.

Pertama, kata ini bisa dijadikan sindiran keras bagi orang yang terbiasa ‘rajin’ kemudian terjerumus dalam kejenuhan yang akhirnya membuatnya malas. Dengan ketidak terimaannya mendengar kata atau cibiran “huuuh yamba!” yang dilontarkan langsung padanya, mungkin akan memotivasinya kembali untuk kembali ‘rajin’ dan menyingkirkan jauh-jauh sikap malas yang akan mulai menjerumuskannya ke dalam image yamba padanya.

Ke-dua, kata ini bisa dijadikan julukan bagi si pemalas akut dengan harapan orang itu malu menyandang image orang yamba yang melekat padanya, dan mulai memperbaiki kebiasaan buruknya itu. ‘Sedikit harapan kecil penulis, semoga orang yang memiliki image orang yamba itu bisa dilupakan sebagai orang yamba.’ Seperti yang kita semua ketahui ‘image’ yang sudah melekat itu sulit untuk dilupakan.

Ke-tiga, kata ini tentu saja bisa dijadikan sebagai hiburan semata, melihat seseorang yang sedang santai, dan mulai mengganggunya dengan kata ‘yamba’. Bukankan mengganggu orang sudah menjadi hal yang menyenangkan, dan hiburan dikala semua orang serius dengan pekerjaannya masing-masing, atau saat tak ada lagi bahan obrolan yang dapat mencairkan suasana selain dengan menggu orang lain.

Atau terakhir, kamu bisa menggunakan kata ‘yamba’ ini, seperti contoh percakapan ini :

A : Hai B, udah ngerjain tugas?

B : Belum, ntar ah aku yamba.

Hey! Sebenarnya apa yang salah pada orang ini? Apa ia ingin dijuluki orang yamba disaat orang lain menghindari julukan ini padanya? Atau.. at.. at.. atau? Sudahlah tak perlu membesarkan hal ini.


Tentu saja semua terserah kita memandang dan menanggapinya. Izinkan aku menggunakan kata bijak yang klasik yang entah ini mempunyai hubungan atau tidak sama sekali. Jika ‘hidup adalah pilihan’ maka kata ‘yamba’ juga merupakan pilihan. Apa kamu ingin menjadikan kata ‘yamba’ sebagai motivasi, sebagai gambaran asli dirimu, sebagai hiburan, atau sebagai image yang kamu idolakan? Semua terserah padamu, karena yang pasti kata ‘yamba’ tidak akan cepat menurun pamornya, dan tak akan mudah pula untuk dilupakan. Ai Nur Asiah.
Begadang jangan begadang



“Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya.” Penggal lirik lagu yang tak asing bukan?
Begadang atau terjaga sepanjang malam sudah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian besar mahasiswa seni rupa. Dari mulai mengerjakan tugas, berkarya atau menyelesaikan suatu proyek. Hal-hal itu tentu sulit dikerjakan pada siang hari yang notabene mahasiswa ya kuliah dan berorganisasi. Pilihan yang memang paling aman yaitu menyelesaikan pekerjaan pada malam hari. Tapi ada dampak yang kurang baik dari begadang ini lho guys, apalagi dilihat dari sisi kesehatan. Apa saja dampak buruknya? Yuk simak.

Pusing, diakibatkan karena otak dipaksa untuk bekerja terus-menerus. Otak juga bisa lelah lho, kalau kita kurang bijak merawatnya. Otak perlu dirawat? Tentu dong guys.

Kembung, sebagian begadangers memang mengkombinasikan begadang dengan beberapa gelas kopi. Wah wah wah walaupun ada kopi yang gak bikin kembung, tetep aja guys, kafein yang dikonsumsi berlebihan tidak baik untuk jantung dan usus.

Ngantuk! Walah walah, ini nih, sehabis malam begadang biasanya saat kuliah mata terasa berat yah, apalagi saat kuliah pagi.

Konsentrasi menurun, namanya juga orang ngantuk, diajak ngobrol pikirannya pengen tidur aja (hehe).

Pelupa, kok bisa pelupa sih? Tau gak guys ternyata tidur merupakan salah satu terapi untuk mengingat suatu kenangan atau hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita ingat sama sekali.

Persepsi kurang baik tentang tidur. Orang yang terlena dengan begadang biasanya akan menyepelekan tidur, mereka berfikir bahwa mengejar sesuatu hingga tercapai itu sangat penting sehingga mengabaikan kebutuhan tidur yang dirasa mengganggunya.

Itulah sebagian dampak yang terasa sesudah begadang, selain itu ada yang lebih berbahaya lagi lho, berakibat fatal seperti resiko terkena serangan jantung, tekanan darah tinggi dan diabetes. Serem yah, hei guys! sekuat apapun tubuh kamu saat begadang, tidur itu perlu, agar metobolisme tubuh tak terganggu. Perbaiki lagi siklus hidup kita, sayangi tubuhmu mulai hari ini. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan di siang hari, biarkan tubuhmu istirahat dengan cukup saat malam. Demi kehidupan di masa depan, ingin sehat dengan anak dan cucu kelak?

(rujukan artikel: kesehatan96.blogspot.com)
Menariknya Kreatifitas Fotografi dalam Seni



Seni itu apa? Apa itu Seni?
    Pertanyaan klasik yang selalu dikemukakan oleh banyak orang adalah apakah seni itu. Kebanyakan dari mereka menjawab secara spontan bahwa seni adalah keindahan. Jawaban tersebut tidak salah, tetapi tidak juga benar karena dibeberapa karya seni khususnya seni rupa), keindahan itu tidak mudah ditemukan oleh setiap orang. Sedangan definisi seni menurut Achdiat K. Mihardja: “Seni adalah kegiatan rohan manusia yang merefleksikan realitet (kenyataan) dalam suatu karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya”. Disamping untuk membangkitkan pengalaman tertentu, seni juga mempunyai sifat komunikatif, menurut Taufik Abdullah dalam tulisannya mengenai komunikasi ilmu dan seni, mengatakan bahwa seni itu adalah satu dari berbagai cara untuk melukiskan dan mengkomunikasikan. Seni baru bisa mempunyai makna atau dapat diresapkan jika pada dirinya terkandung kekuatan pesan yang komunikatif dan seni yang tidak komunikatif sama sekali tidak bisa dikatakan indah. Dari pernyataan ini bisa dikatakan bahwa seni adalah media penyampaian pesan dari seniman kepada orang lain dengan tujuan mempengaruhi pikirannya. Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh Thomas Munro, fotografi dapat dimasukkan sebagai cabang seni rupa (visual Art), seni yang hanya bisa dirasakan melalui indera penglihatan manusia. Jadi seni fotografi bisa dikatakan sebagai kegiatan penyampaian pesan secara visual dari pengalama yang dimiliki seniman / fotografer kepada orang lain dengan tujuan orang lain mengikuti jalan pikirannya. Supaya tercapai proses penyampaian pesan ini maka harus melalui beberapa persyaratan komunikasi yang baik, yaitu konsep AIDA (Attention–Interest-Desire-Action) atau Perhatian – Ketertarikan – kiKeinginan – Tindakan.

    Syarat pertama adalah harus menimbulkan perhatian (attention). Sebuah karya foto pertama-tama harus mampu mendapatkan perhatian orang untuk melihatnya. Tanpa proses ini, sebuah pesan dari karya foto juga karya seni lainnya akan berhenti disitu saja. Kemudian setelah mampu mendapat perhatian orang maka karya foto harus mampu menimbulkan ketertarikan (interest) terhadap pesan yang akan disampaikan. Setelah orang tertarik pada karya foto yang dibuat, maka dari situ proses tetap berlangsung dengan timbulnya keinginan (desire) untuk mengetahui lebih jauh pesan yang disampaikan. Proses terakhir adalah dengan timbulnya tindakan (action) seperti yang diharapkan oleh seniman/fotografer sesuai pesan yang disampaikannya. Jika proses terakhir ini berhasil, maka berhasil pulalah penyampaian pesan mengenai pengalaman yang dimiliki seniman/fotografer pada orang lain dengan adanya tindakan nyata yang dilakukan. Tindakan-tindakan itu bisa beraneka macam tergantung pesan apa yang disampaikan. Bisa menimbulkan perasaan tertentu (sedih, gembira, marah, takut, terharu, dal lain-lain) hingga tindakan yang nyata. Misalnya : membeli produk yang tercantumpada foto (pada commercial photography), memberikan bantuan kepada orang yang tertimpa musibah/kesusahan (pada photojournalism, human interest) menimbulkan rasa kagum bahkan cinta, dan lain sebagainya. Fotografi menampilkan kenyataan (realita) dan tidak ada unsur abstrak (dalam seni fotografi). Suatu kenyataan bahwa pembuatan seni fotografi dengan kamera berarti membatasi subyek dengan batas format pada jendela pengamat. Hal ini menjadikan seni fotografi lebih jujur daripada seni lainnya karena merekam seperti memfotocopy subyek yang ada di depannya. Subyek foto mencakup banyak hal dan tidak terbatas, mulai dari pemotretan manusia, alam semesta, arsitektur, sampai dengan mikroorganisme. Memang, banyak seniman foto yang berusaha membuat foto dengan film khusus, seperti film infra merah supaya subyeknya terlihat lebih abstrak. Namun, subyek dengan warna yang tidak seperti kenyataan tetap merupakan bukti dan bukanlah khayalan. Pembuatan foto perlu perencanaan dan pengenalan subyek yang dapat dilakukan dengan cara mendatangi satu tempat berkali-kali atau mendalami suatu tema foto.

FOTO HITAM PUTIH DAN FOTO BERWARNA

    Fotografi hitam putih dan fotografi berwarna adalah dua hal yang berbeda namun berdiri sejajar. Dalam era kemajuan teknologi fotografi yang begitu pesatnya ini bukan berarti bahwa masih hadirnya foto hitam putih merupakan foto yang ketinggalan zaman. Selain masih diperlukan dilingkungan media informasi cetak, misalnyakoran, majalah ataupun buku-buku. Fotografi berwarna bukanlah semata-mata modernisasi dari fotografi hitam putih. Demikian pula fotografi hitam putih bukanlah merupakan penyederhanaan fotografi berwarna. Fotografi warna dan fotografi hitam putih telah berjalan sendiri-sendiri menjadi dua aliran dalam seni fotografi, dengan pengikutnya masing-masing. Ini dapat dibuktikan pabrik perlengkapan fotografi ILFORD di Inggris menyebut dirinya spesialis foto hitam putih.bahkan pabrik tersebut memiliki slogan “Ilford, The Future in Black and White" ( Ilford, Masa Depan untuk Foto Hitam Putih) Foto hitam putih adalah foto yang sangat sederhana, sehingga jika tidak diolah secara kreatif tidak akan menghasilkan apa-apa. Karena hampir semua subyek yang ada di depan fotografer adalah mengandung warna yang beraneka ragam atau berwarna, maka seorang fotografer hitam putih dituntut mampu menterjemahkan warna-warna yang terdapat dalam subyeknya ke dalam gradasi hitam putih. Terlepas dari foto warna ataupun hitam putih, pada prinsipnya adalah sama dalam hal proses penciptaanya. Secanggih apapun perangkat fotografi yang digunakan, mutu
hasilnya sangat tergantung pada tujuan, fungsi, naluri, dan tingkat kreativitas fotografernya.

Dunia Kreativitas

 Kreativitas merupakan kemampuan yang efektif untuk mencipta yang akan melahirkan sesuatu yang baru. Dapat dikatakan juga, kreativitas adalah daya dan upaya dari akal budi untuk menciptakan sesuatu yang lain atau berbeda dari pada yang lainnya, dari yang kurang baik menjadi lebih baik, dari yang belum pernah ada menjadi sesuatu yang nyata, menarik, dapat dinikmati, dan bermanfaat. Imajinasi sebagai penggerak kreativitas, semula dapat dimunculkan dari pengalaman diri pribadi, fantasi ataupun asosiasinya yang selanjutnya dapat dikembangkan dan diterbarkan secara luas dengan cara: mengkorelasikan dengan alam yang terbentang luas serta isinya, cinta kepada sesama, cinta yang specifik, kondisi ekonomi, situasi politik, hukum ataupun dengan ide dan bentuk karya dari seni yang lain. Pada dasarnya potensi kreatif sebagai self-concept perlu dan harus dikembangkan setiap saat dengan membuka dan menjajahi pengalaman-pengalaman kreatif yang baru (up to date) dalam bidang apapun juga. Hal ini mengingat sekaligus menandakan bahwa setiap seniman pasti mempunyasi kreativ itas-kreativitas yang umum dan sekaligus yang spesifik.

Kita lihat pendapat salah satu pendapat tokoh yuk!
Menurut pendapat Soedarso yang termasuk dalam pengertian kreatif adalah kualitas dari:

A.Sensitivitas adalah kepekaan terhadap setiap rangsangan yang datang dari luar, baik kepekaan terhadap kesedihan yang dirasakan oran lain, maupun kepekaan terhadap kombinasi warna atau susunan bentuk yang menarik ataupun hal-hal yang khas yang ada disekitarnya. Dengan kepekaan seperti ini maka jiwa akan menjadi kaya oleh berbagai pengalaman yang masuk dan kekayaan tersebut akan selalu siap untuk
diekspresikan.

B.Kelancaran atau fluency : yaitu kelancaran untuk menentukan kata-kata atau warna tertentu yang sesuai dengan ide yang akan diekspresikannya, kelancaran idesional untuk berpikir dengan cepat dan tepat, kelancaran mengasosiasikan sesuatu dengan yang lain, dan kelancaran ekspresional yang berarti kemampuan untuk menemukan dengan cepat jalan yang paling sesuai dengan ekspresinya.

C.Fleksibilitas : yakni kemampuan untuk mengadaptasi situasi yang baru. Manusia mampu menyesuaikan dirinya dengan berbagai situasi baik kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kawan baru, tetangga baru, atau kondisi iklim pada daerah tertentu, misalnya dari hidup di daerah tropis ke hidup di daerah dingin.

D.Originalitas ialah kemampuan untuk mengemukakan jawaban atau solusi yang khas terhadap pertanyaan atau masalah yang ada. Pribadi yang memiliki originalitas adalah pribadi yang tidak tergantung pada ide-ide orang lain, jujur pada dirinya sendiri dan pada proses kreativitasnya.

E.Kemampuan untuk menentukan dan mengatur kembali.

F. Kemampuan untuk menangkap adanya hubungan antara beberapa hal atau masalah dalam suatu jalinan tertentu.

G.Elaborasi : ialah kemampuan untuk mengembangkan suatu ide dengan detail/bagianbagiannya. Seorang yang kreatif akan mampu dengan baik membuat lukisannya ( baik secara verbal maupun dengan gambar) tentang misalnya, sesuatu adegan. Tidak ada satu bagianpun yang terlepas dari perhatiannya. Beberapa pandangan di atas menunjuk pada suatu kenyataan bahwa krea-tivitas pada intinya adalah merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan suatu yang baru baik berupa gagasan ataupun karya nyata, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

Fotografi Digital Dalam Kreativitas

    Kamera digital pertama diproduksi oleh Kodak yaitu DCS 100 (Digital Camera System 100) yangditempelkan pada punggung Nikon F-3 sehingga gambar yang biasa ditangkap oleh film, ditangkap oleh keping CCD (Camera Censor Digital). Perbedaan paling mencolok antara kamera digital dengan kamera konvensional adalah pada kamera digital tidak ada lagi pemakaian film sebagai penangkap gambar. Proses fotografi telah mengalami perubahan dengan tidak adanya proses kimiawi dalam pencetakan foto. Kalau pada teknologi sebelumnya, untuk mendapatkan hasil foto kita harus mencuci film tersebut baru kemudian mencetaknya. Fotografi digital gambar yang didapatkan sudah langsung menjadi sebuah file komputer yang siap diolah. Penemuan kamera digital ini didukung oleh perkembangan software komputer pengolahan gambar. Adanya teknologi ini memungkinkan fotografer melakukan eksplorasi, eksperimen fotografi secara luas dan menjadikan seni fotografi menemukan aliran baru. Teknik montage/penggabungan gambar bisa dilakukan dengan cepat, tepat, murah. Pada perkembangan fotografi digital diperkirakan akan menjadi faforit pada seni fotografi pada masa mendatang karena keluasan teknik yang ditawarkan. Fotografi digital hanyalah sebuah temuan yang memudahkan untuk menyempurnakan dan memanipulasi sebuah foto. Namun bagaimana ia dipakai sepenuhnya, tergantung kreativitas manusia yang mengolahnya. Pada dasarnya apa yang ada dalam karya fotografi  mampu diolah dengan data-data komputer dan mampu menyamai kemampuan secara visual. Pekerjaan komputer hanya perpanjangan tangan, sedang data-data objek tergantung pada prasarana kamera dan kemampuan fotografer. Memang terasa begitu besar peranan kreativitas dalam era fotografi yang didukung oleh perkembangan teknologi kamera.

KREATIVITAS DALAM FOTOGRAFI

    Dalam proses berkaya seni fotografi atau proses visualisasi karya adalah menghidupkan dan memberi jiwa pada karya foto. Seperti halnya dengan seniman seni rupa lainnya, fotografer bekerja menggunakan otak dan hatinya yaitu segala tindakan yang dilakukan, terutama dalam proses pengambilan obyek, ia akan mengetahui hasilyang akan diperoleh sehingga melakukan tindakan-tindakan yang berguna untuk mendukung ide dan gagasannya. Pada dasarnya masalah fotografi adalah masalah yang cukup kompleks karena menyangkut berbagai macam aspek, diantaranya :

1. Kamera, perangkat atau alat pemotretan dari yang paling sederhana sampai pada yang bertekologi canggih. Kamera adalah alat untuk merekam gambar pada permukaan film. Sebagai alat perekam optis, kamera mampu merekam apa yang terlihat oleh lensa. Seorang fotografer dituntut mampu menguasai memahami peralatan yang dipergunakan, sampai pada karakteristik dan tingkat kemampuannya. Kamera mempunyai komponen bermacam-macam yang akan menentukan hasil bidikan seorang fotografer. Alat kontrol penting pada kamera : fokus, kecepatan rana (shutter), dan diafragma karena dari alat kontral inilah, hasil sebuah foto ditentukan.

2. Pencahayaan merupakan unsur dari dasar fotografi. Tanpa pencahayaan yang optimal, suatu foto tidak dapat menjadi sebuah karya yang baik. Pengetahuan tentang pencahayaan mutlak harus diketahui oleh seorang fotografer. Cara mempelajari penguasaan pencahayaan adalah dengan melatih mata untuk lebih peka terhadap cahaya yang muncul.

3. Penempatan subyek utama dalam gambar sangat penting untuk mendapatkan komposisi yang baik. Komposisi dapat digolongkan kedalam beberapa bentuk, yaitu komposisi grafik, dimana unsur-unsur garis dapat membentuk kotak-kotak, bulatan, segi tiga dan lain-lain. Ada komposisi tradisional mempunyai watak yang klasik, komposisi Bali seperti pada lukusan-lukisan Bali. Komposisi modern adalah penampilan yang serba ingin tahu, mencoba sesuatu yang belum pernah ditampilkan, keluar dari aturan yang konvensional dan lain sebagainya.16 Patung dan monumen dapat ditempatkan di pusat gambar, tetapi pada umumnya komposisi yang lebih menarik dihasilkan jika subyek utama ditempatkan tidak di pusat gambar.

4. Kamar Gelap, adalah tempat akhir untuk proses fotografi. Kamar gelap dapat dilakukan trick atau manipulasi dari hasil pemotretan seorang fotografer, sehingga hasil fotonya akan berbeda dengan obyek yang sebenarnya. Didalam kamar gelap inilah proses pencetakan/ montase, distorsi dengan jalan pengaturan posisi kertas dilakukan.

5. Aspek pesan menjadi sebuah pengalaman baru yang unik menarik dan estetik bagi orang lain yang menikmatinya. Seorang fotografer harus dapat mengkomunikasikan pesan atau pengalaman batinnya yang estetis melalui hasil bidikan kame-ranya kepada orang lain.

6. Aspek presentasi memegang peranan dalam penataan komponen subyek artinya penguasaan komposisi dan unsur disain harus difahami benar oleh fotografer, sehingga dapat ditampilkan dengan baik.

7. Pemakaian filter. Filter adalah suatu sistem optis pembantu yang biasanya dipasang di depan lensa dan dapat memodifikasi gambar asli di saat pemotretan. Beberapa jenis filter dapat me ngubah warna-warni atau bayanagn, sedangkan yang lainnya dapat menciptakan efek fisik baru pada bidang pada bidang gambarnya. Namun, sebuah filter dapat juga berupa suatu media tembus pandang atau memantul, seperti sebuah cermin tua atau suatu pecahan kaca dari wadah abu rorok. Pemakaian filter atau saringan sinar mempunyai maksud yang berbeda-beda

8. Pemotretan Gerak dapat diabadikan dengan menggunakan lampu kilat atau rana dengan kecepatan tinggi. Namun efek bergerak bukan hanya muncul karana sebuah gambar tampil dengan tajam. Ada, kalanya, gambar yang ringan yang akan anda tampilkan harus tampil blur untuk memberikan kesan gerak. Ada teknik blurring, teknik panning shot, teknik freezing dan teknik zooming. Panning dalam More Joy of Photography adalah “Moving a camera to photograph a moving object while keeping the image of the object in the same relative position in the viewfinder”.


9. Kreativitas fotografi sebagai pengarah gaya. Salah satu kiat mendapatkan hasil pemotretan yang baik seperti yang dikehendaki orang yang dipotret adalah adanya kerja sama antara fotografer dengan orang yang dipotret. Kerja sama yang dimaksud adalah dalam hal pemberian informasi. Orang yang dipotret wajib memberitahu maksud dan tujuan diadakannya pemotretan agar fotografer mengetahui tugas yang dibebankan kepadanya. Sebaliknya, pemotret berhak mengarahkan orang yang akan dipotret. Dengan kerja sama demikian, diharapkan diperoleh hasil pemotretan sempurna, seperti yang dikehendaski kedua pihak.18 Dalam melakukan pemotretan, salah satu hal yang harus dilakukan fotografer adalah mengarahkan gaya orang yang dipotret. Apakah gaya dan posisi tubuh seseorang sudah baik dan menunjang komposisi gambar atau perlu diubah. Dari beberapa aspek diatas merupakan sebagai contoh yang harus disikapi oleh fotografer yang profesional, dengan tidak membedakan jenis atau fungsi fotografi pada umumnya. Seorang fotografer tidak hanya mampu mengo-perasionalkan alat saja, tetapi dia adalah seorang pencipta gambar yang menarik dan mengandung nilai estetik yang dapat memuaskan orang lain yang melihatnya. Dengan menggunakan madia cahaya pengalaman baru/sesuatu yang baru akan dapat diekspresikan dan dinikmati.(Zesika HK)
Aduhai “Secangkir Kopi Hitam #3”




Buser UPI (Baroedak Scooter Seni Roepa) bekerjasama dengan divisi komunitas HIMASRA menyelenggarakan “Secangkir Kopi Hitam #3) di pelataran parkiran barat UPI, Kamis (08/01/2015).
Buser merupakan salah satu komunitas vespa yang diikuti oleh pengguna scooter Italy mahasiswa seni rupa UPI. Dalam perkembanganya Buser kerap kali menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang beraromakan kesenirupaan. Detik ini kali ketiganya Buser mengadakan Secangkir Kopi Hitam. Secangkir Kopi Hitam merupakan ajang untuk berdiskusi, bertukar pikiran dan berkomunikasi dengan sesama pecinta vespa.

Secangkir Kopi Hitam #3 diikuti oleh pecinta vespa se-UPI, diantarnya diikuti oleh komuniats cofee mix, skupi, dan komunitas lainya juga pecinta vespa lainya. Acara ini bertjuan untuk membangun forum komunikasi sesama pecinta vespa se-UPI guna menjalin hubungan dan persaudaraan. Persaudaraan merupakan kata yang sangat melekat pada individu pecinta Vespa karena bermula dari hal tersebut banyak komunitas vespa lahir. Buser mempunyai moto “Silih asah, silih asih, silih selah” yang menjadi bukti bahwa buser mencintai persaudaraan.

Ketua Pelaksana, Agung Bhakti menginginkan setelah adanya acara ini akan menjadi ruang forum mahasiswa pecinta vespa se-UPI sehingga menjadi kegiatan kontinu.


Awal langkah perjalanan membangun forum ini akan menjadi langkah awal untuk menciptakan persaudaraan yang baru. Forum ini akan menjadi forum positif untuk saling berdiskusi , bertukar fikiran, dan terutama menjalin persaudaraan. Kita do’akan saja semoga forum ini bisa menjadi kegiatan kontinu. (Rega Oktaviana).
HIMASRA Berkontribusi di Pameran 5 Kota




Himpunan Mahasiswa Seni Rupa (HIMASRA) berkontribusi dalam Pameran 5 kota yang bertajuk “Demo-Crazy” di Posnya Seni Godod, Jl. Suryodiningratan MJ II/641 Yogyakarta, Sabtu (20/12/2014). Pameran ini menampilkan 34 karya yang melibatkan 46 seniman yang berlangsung dari 19-26 Desember 2014. Seniman yang dilibatkan dalam pameran ini berasal dari lima kota yang diwakilkan oleh 5 universitas yakni UPI Bandung, UNNES Semarang, UNS Solo, UNY Yogyakarta, dan UNJ Jakarta.

Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI dengan bangga mendelegasikan 5 wakil untuk berkiprah dalam pameran tersebut diantaranya Yopi Syamsul Arifin, Awab Abdullah, Junaedi, Nono Haryono, dan R. Moch. Rizal Hafiyan yang tentunya lolos dalam pengkurasian. Pengkurasian yang dimaksud dilakukan oleh wakil dari dosen Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Yulia Puspita, M.Pd. Delegasi seniman yang berkiprah tersebut mendapat apresiasi positif dari apresiator yang datang juga mendapat perhatian yang cukup besar dari media sosial.

Karya Yopi Samsul Arifin berjudul “From and for Me” Mix Media on Board yang representatif dengan tema yang diusung “Demo-Crazy”. Yopi memvisualisasikan gambaran rakyat Indonesia dari berbagai kalangan yang mendeskripsikan tentang demokrasi menurut pandang kalangan tersebut. Paradigma orang- orng borjuis tentunya demokrasi dari dan untuk saya. “Saya berhak mendapatkan keadilan, jika salah aparat disogok dan menurut mereka demokrasi Indonesia sangatlah adil. Sedangkan menurut sebagian kalangan besar rakyat Indonesia demokrasi Indonesia tidak adil.

Divisi Kriya HIMASRA juga terlibat dengan mendelegasikan Dina N Maghdalena dan Irsyalina Zata Dini mengadakan Workshop Yubiami yang diadakan pada Rabu (21/12/2014). Diluar dugaan Workshop Yubiami ini mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari mahasiswa UNJ, UNNES, UNS, dan UNY. Tak disangka mayoritas yang mengikuti workshop ini adalah kaum laki-laki yang memang workshop Yubiami ini belum mereka ikuti sebelumnya. Tentunya mereka belum mengenal Yubiami sebelumnya bahkan baru pertama kalinya bagi mereka mempelajari Yubiami. Sehingga saat mereka identifikasi dan berkreasi malah ketagihan dan membuat kreasi yang lebih banyak dengan paduan kreativitas yang berbeda dari setiap orangnya.


Rasa bangga patut kita berikan kepada delegasi yang turut serta terlibat dalam pameran tersebut tentunya jasa yang mereka berikan dapat mengharumkan Jurusan Pendidikan Seni Rupa Upi dan Himpunan Mahasiswa Seni Rupa (HIMASRA) UPI. Jasa ini akan senantiasi hadir dan mengalir dalam jiwa setiap generasi yang akan terus berkiprah dalam dunia seni. (Rega Oktaviana).
Angkatan 2014 Punya DIORECA




DIORECA, itulah tema event yang diselenggarakan oleh mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa UPI angkatan 2014 dibawah naungan Himpunan Mahasiswa Seni Rupa (HIMASRA) UPI yang berpusat di Gedung Geugeut Winda (Pusat Kegiatan Mahasiswa UPI), Rabu (17/12/2014).

Diversity of the Real Education (DIORECA) digagas oleh salah seorang mahasiswa seni rupa angkatan 2014 Nada Afnan yang dimana mempunyai makna keanekaragaman dalam pendidikan yang sebenarnya. DIORECA menekankan nilai pendidikan yang disajikan dalam setiap konten acara yang bersinergi dengan “Keragaman Pendidikan”.

“DIORECA kepanjangan dari Diversity of the Real Education yang memiliki makna Keanekaragaman pendidikan yang nyata” Kata ketua pelaksana Fahrudin Ali Ahmad usai memberikan sambutan dalam pembukaan.

Dalam upaya menciptakan generasi penerus organisasi yang berorientasi baik, kompeten dan mempunyai loyalitas tinggi, HIMASRA mengkaderisasi dengan mengadakan event berskala regional kota Bandung. Esensi yang lahir setelah mengadakan event ini yang nantinya dapat dijadikan bahan pengalaman dan pembelajaran sehingga menjadi individu yang mempunyai jiwa organisatoris.

“DIORECA termasuk ke dalam rangkaian kaderisasi HIMASRA tahun ini, yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran event management terjun langsung di lapangan” Kata Ketua Himpunan Mahasiswa Seni Rupa Ardhiyatul Ardha usai memberi sambutan.

Dalam persiapanya DIORECA dikemas selama sebulan penuh dengan dibekali pengarahan event management oleh steering comite. Hanya dalam rentan waktu sebulan mahasiwa seni rupa angkatan 2014 dapat membuat event menarik dengan menawarkan lima konten acara berbeda yang mempunyai tujuan tersendiri dari setiap kontennya yang tentunya bersinergi dengan pendidikan. Konten tersebut terdiri dari seminar, bazar, lomba, performance art, dan live music.

Konten seminar yang mengusung tema “Perkembangan Industri Kreatif melalui Pendidikan” mendapat perhatian yang cukup besar dari masyarakat. Terlebih pemateri yang dihadir kan Gustav H Iskandar dari Common Room sebagai pengambil kebijakan dan pelaku industri kreatif sebagai Creator and Designer membuat peserta seminar intens konsentrasi.

Pengemasan bazar dengan konsep beraromakan seni dengan tema “Kreativitas dalam Proses Pembelajaran Berwirausaha” seakan membuktikan bahwa mahasiswa seni rupa angkatan 2014 beraktualisasi dan memberikan realitas bentuk wirausaha. Inovasi yang ditampilkan menunjukan tingginya jiwa kreatifivitas yang dihasilkan melalui olah pikir yang bersifat orisinal.

Memasyarakatkan seni dalam konten lomba ilustrasi dan performance art ikut mengambil alih roda kehidupan seni dalam lingkup sosial. Jiwa militan untuk terus bergerak memasyarakatkan seakan tak pernah pudah untuk selalu terus berjuang tanpa mengenal putus asa.

Penghujung acara DIORECA disambut rasa bangga keluarga himpunan mahasiswa seni rupa. Rasa duka cita yang ada tertebus oleh suksesnya acara yang dilaksanakan dengan penuh perjuangan. Mari bergotong royong melanjutkan jalan ini kembali. (Rega Oktaviana).


Workhshop Kejar Aurora



Dengan penuh rasa bangga divisi kriya berduet dengan divisi seni murni Himpunan Mahasiswa Seni Rupa (HIMASRA) UPI berlapang dada menyelenggarakan program Workshop Kejar Aurora di Cimindi, Cimahi, Bandung, Minggu (07/12/2014)

Workshop yang diadakan oleh divisi kriya dan seni murni ini adalah workshop clay dan papper quilling. Untuk workshop clay diperuntukan anak kelas 1 sampai 2 dan workshop papper quilling untuk kelas 3, 4, dan 5 SD.

Workshop ini disambut antusias yang sangat tinggi karena baru pertama kalinya untuk mereka membuat karya dengan media dan teknik yang diajarkan. Tentunya pembelajaran dengan metode workshop ini merupakan inovasi dalam pembelajaran seni rupa yang sangat menarik sehingga perlu adanya realisasi praktek pengajaran di setiap sekolah.


Semoga langkah yang berbudi pekerti luhur ini terus berlanjut hingga tak pernah padam dan memang tak akan pernah padam. Jiwa mahasiswa akan selalu lahir dengan kepedulian yang direalisasikan secara faktual. Perjalanan ini akan terus berlanjut. (Rega Oktaviana).