Senin, 27 April 2015

Sekilas Wisuda



Rabu, 15 April 2015 lalu tepatnya di Gymnasium UPI Bumi Siliwangi, 27 Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa penanggalkan statusnya sebagai mahasiswa menjadi S. Pd. Ke-27 mahasiswa ini mengikuti wisuda gelombang pertama di tahun 2015. Dari keseluruhan peserta wisuda, diantaranya dinyatakan lulus ujian sidang pada bulan Desember 2014, Januari dan Februari 2015.

Wisuda kali ini, selain dari jumlah peserta wisuda yang terbilang banyak, salah satunya menjadi pemegang IPK terbaik, dianya yaitu Nida Sholiha. Merupakan suatu kebanggaan bagi keluarga besar Pendidikan Seni Rupa. Dengan ini munculah sebuah pembuktian yang lain bahwa Seni Rupa pun mampu bersaing di bidang akademik. Masih ingatkan dengan empat mahasiswa yang ikut serta dalam Pameran Nalar Sensasi Seni. Dua pembuktian dalam bidang pendidikan dan dunia “kesenirupaan” yang juga menjadi motivasi bagi Mahasiswa-mahasiswi Pendidikan Seni Rupa untuk lebih eksis lagi. Baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Berikut ini, rentetan nama Mahasiswa terbaik bangsa jebolan Departemen Pendidikan Seni Rupa yang mengikuti Wisuda Gelombang pertama tahun 2015:


Rendi Yogaswara
Muhamad Reza
Gatra Bahtera
Dani Darmawan
Deni Sudrajat
Kiki Tristianti
Adam Setiadi
Ferro Syumarna
Erlin Herlina
Dita Aditia
Oktavian Bilma’ruf
Annisa fauzia R.
Vhany Agustini W.
Irfan Dzihani
Tesa Apriliano
Ananda Nurul Aeni
Nida Sholiha
Daru Ahmad Sopian
Andi Wandriansah
Devie Astuti
Sari Apriliani
Egie Yuan Pratama
Muhammad Taqiyyuddin
Endang Adi Sutomo
Nurul Helda
Agung Tri Wibowo
Tolopan Ragukguk

Yap! itulah nama-nama wisudawan 15 April 2015, Departemen Pendidikan Seni Rupa. Salam hangat dari Etsa untuk pembaca setia Etsa di mana pun kalian berada. Tetap semangat raih prestasi ya! (Red. Rina)

Minggu, 12 April 2015

HIMASRA #ArtTrip - NALAR | SENSASI | SENI

http://galeri-nasional.or.id/new/upload/Poster.jpg
HIMASRA #ArtTrip kembali dilakasanakan, kali ini HIMASRA mengapreasiasi karya mahasiswa Indonesia yang bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (9/04/2015). Galeri Nasional kali ini memfasilitasi Karya Mahasiswa seluruh Indonesia untuk dapat mengeksiskan dirinya melalui sebuah pameran. Tak semudah membuat mie instan, karya yang dipilih pun melalui proses panjang yang diseleksi oleh tiga kurator, Rizki A. Zaelani, Suwarbo Wisetrotomo, Citra Smara Dewi.
 
Sekitar 543 calon peserta dari 67 perguruan tinggu di 13 provinsi di Indonesia dan 2 perguruan tinggi di luar negri. Karya yang tepilih berjumlah 105 karya dengan berbagai jenis seperti lukisan, patung, seni keramik, drawing, seni grafis, fotografi, seni batik, mural, video art, dan seni instalasi. Karya-karya Mahasiswa ini berasal dari dari 27 perguruan tinggi di 10 provinsi di Indonesia.
"Selain menunjukan potensi, kreativitas, dan pencapaian artistik para mahasiswa, juga untuk memetakan bagaimana peran perguruan tinggi dalam mencetak insan kreatif." Tuturnya, Tubagus 'Andre' Sukmana sebagai Kepala Galeri Nasional Indonesia.

Salah satu yang istimewa dalam pameran ini yaitu terpilihnya 4 Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI yang ikut serta, yaitu: Alima Hayatun Nufus (2011), Basit Abdillah (2010), Buana Artian (2014), dan terakhir Endang Adi Sutomo (2010). Tentu saja hal ini menjadi satu kebaggaan tersendiri untuk UPI khusunya Pendidikan Seni Rupa lebih khususnya lagi bagi mahasiswa seni rupa sendiri pun sebagai pembuktian bahwa UPI tak hanya eksis di bidang pendidikan saja.

Besar harapan tentunya prestasi ini terus meningkat dan berkembang, untuk lebih mengeksiskan lagi UPI khususnya Seni Rupa sendiri. Lalu sebagai penyulut api semangat untuk mahasiswa yanh lain agar terus berkarya dan mengikuti perkembangan keseni rupaan. Thinking out of the box, karya harus dipamerkan karena dengan itulah kita akan tahu kelebihan dan kekurangan sebagai bahan untuk terus berkarya. So, tunggu apalagi pembaca Etsa? (Red: Rina)

"Menyenikan UPI",- Azhar.

Azhar Natsir Ahdiyat

Hampir dua bulan sudah kepengurusan baru HIMASRA 2015 berjalan, dari mulai open rekruitmen tiap divisi, penyusunan program kerja, mengapresiasi pameran, dll. Lalu apa saja sih yang diharapkan kepengurusan ini kedepannya? "Harapan untuk HIMASRA, lebih eksis lagi, lebih professional, dan mampu mencapai tujuan bersama yang telah diusung. Untuk yang lebih khususnya harapan bagi seluruh Mahasiswa Seni Rupa bisa lebih berkontribusi lagi dalam kegiatan-kegiatan HIMASRA baik di dalam maupun luar kampus." Jawabnya, Azhar Natsir atau yang lebih akrab disapa Ajay ini.

"Menyenikan UPI" pun merupakan salah satu harapan dari Presdir HIMASRA terpilih ini, hal ini merupakan harapan yang menjadi satu pembuktian eksistensi Seni Rupa sendiri sebagai salah satu penghuni 'UPI rumah kita'.

Adapun harapan ini disertai dengan eksisnya Mahasiswa Seni Rupa khususnya tingkat satu dan dua, memaksimalkan potensi, minat dan semangat daam berkegiatan event mau pun daam kekaryaan.

Selasa, 03 Maret 2015

IBU, MEMBAGI DUNIA MELALUI SENI



APA KABAR IBU?, secara jelas mungkin dari 3124 orang pengunjung pameran menyadari bahwa karya yang memenuhi galeri itu dibuat oleh kaum perempuan. Layaknya sebuah pameran Seni Rupa, ruangan gedung A  Galeri Nasional Indonesia terisi oleh 13 karya yang terpajang secara khusus di bilik yang telah diatur sedemikian rupa oleh Himpunan Mahasiswa Seni Rupa (HIMASRA). Tak hanya mengatur dan menyiasati ruang, serangkaian kegiatan manajemen pameran seni itu dikemas secara apik dibawah pimpinan anggota HIMASRA, Yopi Syamsul Arifin.

Membagi kisi dari dunia berkesenian antara seni rupa, tari, musik, sastra, dan teater menjadi nilai lebih dari pameran ini. “Pameran yang menggabungkan berbagai seni menjadi satu seperti ini, menjadi gebrakan baru yang memberi warna lain,” ucap Direktur Galeri Nasional, Tubagus Sukmana.
Semula pameran pertama dari Apa Kabar Ibu diselenggarakan bertempat di Galeri Kita Bandung, dan di tahun 2014 para seniwati ini berkesempatan membagi dunia seni dan mengomunikasikan kehidupan pribadi mereka. Kegiatan berbagi dalam bentuk pameran ini dilaksanakan dari tanggal 14-28 November 2014. Karya ini begitu membumi dan komunikatif. Hal ini bisa terlihat dari jenis-jenis karya yang ditampilan dari beberapa seniman. Sebut saja Herra Pahlasari. Ia menampilkan beragam benda pribadi dari rumahnya di kawasan Jl. Sosiologi No.14 Bandung, yang dikenal orang sebagai S14.

Potret perjalanan karir Herra sebagai seniman yang saat ini disibukan dengan berbagai kegiatan manajemen seni diperlihatkan secara tegas melalui berita dari rubrik Geulis pada Koran Harian Pikiran Rakyat. Tak hanya itu, Ibu satu anak ini begitu piaway membagi rumah pribadinya menjadi bagian dari ruang publik berbentuk perpustakaan yang juga difungsikan sebagai ruang diskusi seni dan kegiatan social lainnya.

Sering kali karya seni hanya dinikmati secara mendalam oleh kalangan apresiator yang mempunyai pemahaman lebih mengenai karya rupa. Namun pada acara yang digarap HIMASRA ini, karya seni yang ditampilkan relatif yang dapat direspon tindakan maupun dari unsur visual yang begitu akrab dengan kehidupan keseharian umunya.

“Pameran ini bertujuan berbagi, para seniwati membagi dunianya disini,” tutur Anunsiata Srisabda dalam pembukaan pameran. Secara pribadi, Anun yang juga merupakan alumni Pendidikan Seni Rupa UPI menjelaskan bahwa pameran ini memang Ia rancang untuk menguak sisi lain dari sisi kehidupan seniwati yang mungkin berperan ganda atau lebih dalam keseharian mereka. (Karolina Ketaren)


7 Tema dalam Pameran SIMULAKRUM



Sebuah pameran menjadi ajang untuk menunjukan eksistensi seorang seniman, pameran juga sebagai sumber insprirasi bagi seniman lain demi kepentingan ilmu atau pengalaman. Pameran angkatan, menjadi kegiatan rutin Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI, pameran angkatan sendiri berawal dari angkatan 2009 yang akhirnya pada tanggal 22-25 September 2014 angkatan muda Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI 2013 membuat sebuah pameran yang berbeda dari pameran angkatan sebelumnya. Pameran ini bernama SIMULAKRUM #PohonPensilArtProject, yang di mana SIMULAKRUM berarti simulasi ruangan, Pohon Pensil sendiri merupakan nama angkatan.

Adapun keistimewaan pameran ini yaitu satu pameran dengan tujuh tema sekaligus. Satu angkatan yang dibagi menjadi tujuh kelompok, kelompok yang pertama ditemui yaitu Swarnadwipa dengan tema “Political Art”, para seniman Swarnadwipa mengkaji sebuah isu politik di Indonesia yang dituangkan kedalam sebuah karya dua dimensi maupun tiga dimensi. Kelompok ke dua saat memasuki ruang pameran yaitu kelompok Andromeda, dengan sebuah gagasan “Berkarya Tanpa Batas” memiliki arti yang dalam, bahwa seniman Andromeda ini mengangkat sebuah nama rasi bintang yang berarti bintang itu tak terhitung jumlahnya dan berada di luar angkasa yang tak ada batasnya. Sehingga di sini para senimannya bebas mengekspresikan Andromeda sesuai sudut pandang masing-masing.

Tepat di depan kelompok Andromeda, kita bisa mengunjungi kelompok Lost yaitu “The Art of Game” yang menarik dari tema yang satu ini yaitu ada game di setiap karya yang boleh dijawab oleh apresiator. Kelompok ini mengusungkan tema tersebut agar apresiator bisa lebih mengamati dan menilik-nilik sebuah karya. Berada di ruangan yang sama sebelum menuju ruangan selanjutnya ada kelompok Coins “Arts for the Concern” seniman Coins merasa gelisah dengan keadaan sekarang, masyarakat mulai tidak peduli dengan “uang receh” akhirnya mereka mengingatkan kembali bahwa sekecil apapun nominalnya tetap saja uang itu berharga.

Ruangan ke dua ada tiga kelompok yang tidak kalah istimewanya, jajaran pertama kelompok Mofa “Movement of Fashion on Art” seniman penyuka fashion ini mengusung tema yang unik, yaitu perpindahan gaya berpakaian Indonesia dari masa ke masa, dari abad ke-19 hingga memasuki abad ke-20. Juga ada sebuah karya kolaborasi tiga dimensi dari ke enam senimannya. Kelompok ke enam yaitu L.I.M.I.T, limit yang berarti batas, para senimannya berusaha bagaimana cara berkarya dalam keterbatasan yang akhirnya munculah ungkapan “break the limit”. Berpesan agar kita tidak merasa di batasi oleh suatu hal, sesungguhnya kita mampu melewati batas-batas yang ada. Terakhir, kelompok yang asik lainnya adalah Sigga “Recyle Out of the Box” yang mengingatkan kita kembali kepada masa 90-an, ada benda-benda pada masa itu yang dikemas menjadi sebuah karya seni, dan uniknya benda-benda tersebut terbuat hanya dari kardus.

Pameran yang berlangsung selama kurang lebih empat hari ini mendatangkan cukup banyak apresiator, ada 300 lebih pengunjung di hari pembukaan yaitu Senin, 22 Septerber 2014, hal ini cukup mengejutkan bagi panitia karena apresiator yang hadir dua kali lipat dari perkiraan. Sehingga antrian untuk memasuki ruangan pameran pun cukup panjang, namun tidak mengurangi semangat para apresiator yang ingin menikmati karya-karya Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa angkatan 2013. Pameran ini resmi di buka oleh dosen Pendidikan Seni Rupa yakni Bapak Heri Santosa, beliau salut akan kinerja dan semangat para mahasiswanya karena telah mampu menyelenggarakan sebuah pameran, “Berjuanglah sekuat mungkin.” Begitulah kutipan kecil dari Bapak Heri. Beberapa dosen pun hadir, dan beberapa pentinggi fakultas menjadi saksi sejarah angkatan 2013. Selain itu seorang Mentor yang membimbing pameran hingga pameran ini berlangsung ikut hadir pula, Rudi St Darma atau akrab dengan sebutan Om Udey, beliau berterimakasih atas komitmen yang di pegang teguh oleh angkatan 2013 meskipun ada beberapa hal yang harus dievaluasi.

Tidak mengurangi kemeriahan sedikitpun, di hari kedua pameran SIMULAKRUM ini menjadi yang pertama mengadakan kegiatan Live Mural, antara lain oleh angkatan 2013; Rina, Andri, Azhar, angkatan 2012; Prisma, angkatan 2011; Zam zam, angkatan 2010; Adlan, angkatan 2009: M Riky dan salah satu alumni yaitu Pak Asep Wahyu. Dengan tema mural FPSD yaitu fakultas baru, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, para seniman mural ini saling merespon karya satu sama lain, sehingga memiliki sebuah kesatuan yang utuh.

Di hari ke tiga dan ke empat, apresiator di perbolehkan untuk bertanya kepada para seniman SIMULAKRUM mengenai karya-karyanya, atau lebih di kenal dengan Artist Talk. Tentu saja, berbagi pengalaman dan bercerita menjadi hal utama yang diperhatikan, melihat apresiator yang hadir lebih banyak yang bukan pekerja seni, sehingga perlu bagi mereka untuk mengetahui lebih di banding yang memang sudah bergelut di bidang kesenirupaan. Meski begitu, tak sedikit dari mereka yang tetap penasaran dan bertanya pada seniman yang bersangkutan.


Sekaligus menutup Pameran Simulakrum, hari ke empat pada malamnya, pemutaran video dokumentasi dari sodara Akmal dan Azis yang juga merupakan angkatan 2013. Suasana malam yang cerah saat itu memberikan kesan yang lebih hangat dengan adanya kilas balik dari penggarapan Pameran SIMULAKRUM. Dapat di simpulkan bahwa pameran angkatan bukan hanya sekedar ajang pajang karya atau pembuktian saja, tetapi sebagai salah satu kesempatan bagi angkatan itu sendiri untuk membangun brotherhood dan kekeluargaan yang semakin erat. Dengan proses panjang yang penuh dengan intrik dan lika-liku, menghasilkan sesuatu yang sangat di luar dugaan. Pada malam itu; Kamis, 25 September 2014 di bawah pepohonan Taman Nobita, saat malam sedang hangat-hangatnya, Pameran SIMULAKRUM resmi di tutup dengan kebahagiaan yang nyaris sempurna. (Rina; 27-9)
Seni Rupa dan Prodi Desain



Jurusan pendidikan seni Universitas Pendidikan Indonesia telah meresmikan Fakultas Pendidikan Seni dan Desain di Balai Pertemuan UPI, Senin (09/09/2014). Acara peresmian ini serentak dengan diadakanya peluncuran buku dari Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. Peresmian dan peluncuran buku ini dihadiri oleh warga UPI dari berbagai bidang dan Institusi lain serta jurusan pendidikan seni baik seni rupa, musik dan tari.

Menulis  buku merupakan unsur penting dalam suatu akademisi. Bagi seorang dosen dalam setahun sekali sekurangnya meluncurkan satu buku yang sederhana dan representatif.  Semua dosen di seluruh dunia juga membuat hal serupa. Kenapa demikian? “Untuk membangun kredibilitas dan reputasi pendidikan”.

Jati diri merupakan haluan bangsa dalam mencapai urgensi pendidikan budaya pada masyarakat. Salah satunya adalah revolusi mental dan pendidikan karakter. Pada saat ini banyak permasalah pendidikan dan menjadi masalah kompleks bagi kemajuan bangsa. Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia menjadi salah faktor permasalahan, lemahnya proses internalisasi terkait praktek pendidikan sehingga kurikulum pendidikan menjadi beban, kualitas pendidik diragukan, akses, dan kejar tayang dalam arti pemahaman pembuatan kebijakan kurang baik. Apa Jawabanya? Politik jati diri bangsa melalui pendidikan karena politik jati diri haruslah bernilai karena memang kebutuhan suatu negara haruslah pendidikan.

“Politik jati diri bukan merupakan politik dari partai politik tetapi jati diri bangsa” Kata Rektor saat mendeskrifsikan peluncuran bukunya.

Dengan dilibatkanya jurusan pendidikan seni, acara terkemas menarik dengan paduan dari penampilan dari jurusan seni rupa, seni tari dan seni musik. Seni rupa menghadirkan penampilan live sketch oleh perwakilan Nadhori dan Nadhoro yang menggambarkan secara langsung Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. selain itu seni rupa mengadakan pameran Tugas akhir dengan konsep outdoor. Adapun penampilan Tari dan Keroncong dari seni tari dan musik. Rasa syukur dan ucapan selamat layak dinobatkan dengan diresmikanya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Dengan ini jurusan pendidikan seni bisa berbangga hati dan memulai lembaran yang baru. (Rega Oktaviana).



Jumat, 07 Februari 2014

Divisi Olahraga : proudly present HIMASRA CUP 2013




Salam Himasra Cup!

RedEtsa kali ini akan membahas HIMASRA CUP yang merupakan salah satu kegiatan rutin dari Divisi olahraga HIMASRA. Apa itu HIMASRA CUP? HIMASRA CUP merupakan pertandingan persahabatan  yang diikuti tiap angkatan, mulai dari angkatan muda hingga Alumni. Tidak ada yang mengira ternyata anak seni rupa memiliki mahasiswa-mahasiswa yang berbakat dalam bidang olahraga. tidak hanya olahraga tangan saat menggambar (ngelucu ceritanya), olahraga futsal pun menjadi salah satu yang paling diminati dan ditunggu warga Himasra.

Kabar Jurusan : Kunjungan MTs Yasta Bunter, Sumedang ke Jurusan Pendidikan Seni Rupa


Pada tanggal 19 Desember 2013,Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI mendapat kujungan dari MTs Yasta Bunter, Sumedang. Kunjungan pun di isi dengan kegiatan Workshop Batik bersama yang diadakan di ruang batik jurusan pendidikan seni rupa FPBS lama. Siswa-siswi dari MTs Yasta Bunter sangat antusias mengikuti serangkaian kegiatan workshop batik ini. Dimulai dengan mencanting,  mencelup dan melorod. Tentu saja keceriaan dan antusiasme membludak, mengingat  ini merupakan pertama kalinya bagi mereka melakukan proses pembuat batik. Acara workshop ini dipimpin oleh Bapak Bandi sobandi selaku ketua jurusan dan Bapak Maman Torachman dibantu dengan para mahasiswa JPSR sebagai Fasilitator suksesnya workshop ini.

Jumat, 29 November 2013

Divisi Komunitas : Ada GANIATI meramaikan acara PPKI 2013



GANIATI meramaikan acara PPKI 2013 (27 November - 1 Desember) di Epicentrum, Kuningan, Jaksel. Klik disini http://beritagar.com/p/ganiati-dandan-garing-dan-menari-sampai-mati-10554

Senin, 11 November 2013

Opening START LIGHT 2013 "Art for Education"




Halo pembaca setia Etsa!! kali ini RedEtsa mu ngreview Opening Exhibition Start Light 2013 nih. tepatnya Minggu, 10 november 2013 di Galeri Kita. Buat yang dateng malam kemarin, Gimana keren-keren kan karya-karyanya? Buat teman-teman yang berhalangan hadir di acara Opening Exhibition kemarin,  jangan berkecil hati, karena RedEtsa bakal memeberikan beberapa pict ..so check this out guys...


Jumat, 08 November 2013

Opening Exhibition: START LIGHT Art for Education

Start Light merupakan event pameran proses dan workshop yang dipersembahkan Anggota UKM STUDIO 229 bekerjasama dengan HIMASRA (Himpunan Mahasiswa Seni Rupa) UPI didukung oleh Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI. Kali ini dengan bangga memepersembahkan kembali dengan "Workshop & Exhibition START LIGHT 2013" dengan melibatkan sembilan seniman muda Bandung yang sebelumnya terpilih berdasarkan hasil seleksi dari kompetisi kampus. Disini mereka menggagas karya yang mengangkat dunia pendidikan dengan metode mentoring dan Open Studio. Tahun 2013 adalah tahun ke-2 penyelenggaraan program ini. Start Light diselenggarakan atas spirit Art For Education, berupaya memberikan edukasi publik mengenai apresiasi dan aplikasi seni melalui pameran proses dan workshop kesenirupaan. Diikuti oleh seniman-seniman muda Bandung, guru SMP dan SMA se-Jawa Barat, Mahasiswa, Siswa SMP dan SMA se-Jawa Barat dan umum. Rangkaian kegiatan Start Light dilaksanakan secara maraton mulai tanggal 28 Oktober - 20 November 2013 di Galeri Kita Bandung, Jawabarat.  berikut dibawah ini adalah rangkaian acara dari START LIGHT 2013

Selasa, 09 Juli 2013

"Maritim Culture" di ART|JOG|13 bersama l#Initiative Art Trip UPOYRIA TO JOGJA



Masih tentang #Initiative Art Trip UPOYRIA TO JOGJA, kali ini  Etsa akan membahas tentang betapa Wahhnya di acara malam pembukaan ART|JOG|13 yang bertajuk "Maritim Culture" (kebudayaan Maritim). Ada beberapa hal yang membuat mata tepersona seperti karya tim artistik ART|JOG|13 yang istimewa dari Iwan Effendi feat Papermoon Puppet Theatre, Indonesia, dan facade. mungkin 2 jempol saja tidak cukup  untuk memberikan Apresiasi pada karya yang sangat mengagumkan ini.

Liputan Go to "Crossing Boundaries Exhibition" #Initiative Art Trip UPOYRIA TO JOGJA






Dalam rangka mengisi kekosongan sebelum perhelatan Art Fair tahunan ARTJOG2013 6 July 2013. Pada tanggal 5 July 2013 Art Trip UPOYRIA (Sebutan Art Trip inisiatif mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI ) berkunjung ke sebuah pameran yang bertajuk " NAFAS SHOWCASE Cyecle #1 Crossing Boundaries Exhibition "  I AM ( Independent Art Space & Managemet) di Jln. Nagan Lor No. 25 Yogyakarta. Sesuai denga tujuannya Art Trip ini berlandaskan keinginan dan memuaskan rasa keingintahuan mengenai iklim seni rupa di Yogyakarta. Maka dari itu khususnya Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI hadir di acara pembukaan pameran dari 2 seniman Indonesia dan Satu seniman dari luar negeri (Singapura).